-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Eko Gagak Angkat Suara : Tahun Baru 2026 Bukan Angka Genap Tetapi Angka Ganjil Untuk Huruf

| Januari 02, 2026 | 0 Views Last Updated 2026-01-02T16:31:58Z



Surabaya, Liputanphatas.com // Banyak negara bekas jajahan mengadopsi Kalender Gregorian sebagai hasil dari pemerintahan kolonial merayakan Tahun Baru pada tanggal 1 Januari. Tahun Baru tradisional atau budaya didasarkan pada kalender yang berbeda misalnya : Tahun Baru Imlek, Tahun Baru Hijriah, atau perayaan titik balik matahari. Perayaan Tahun Baru Masehi mencakup unsur-unsur modern dan global seperti kembang api, pesta, dan acara hitung mundur berlangsung dengan tradisi yang berbeda di setiap wilayah. 

Skala prioritas menjadi urusan gaya hidup dan simbol peradaban yang dibiarkan tunduk pada arus global sekuler. Bertahun-tahun Tahun Baru senantiasa diadakan, sejak lahir sampai sekarang di design ulang model dan jenis perayaannya. Lonjakan lalu lintas, minuman keras dapat memicu tawuran seolah menjadi legitimasi sosial melepaskan kontrol diri dengan menghalalkan kelalaian secara kolektif. Sekularisme bekerja melalui normalisasi yang dipromosikan sebagai tradisi. Akibatnya ketinggalan zaman jika menolak. 

Pergantian tahun kerap menjadi momen kembang api, parade, ragam hiburan, dan destinasi wisata menjadi daya tarik merayakan. Tidak sekadar mengikuti tradisi tetapi mengedepankan harapan di tahun yang akan datang membuat daftar resolusi untuk mencapai tujuan baru. Dalam euforia perayaan sungguh ironis tradisi kerap diterima seolah wajar dan dianggap budaya. Tahun Baru Masehi bukan sekadar pergantian angka tetapi simbol dominasi peradaban sekuler yang dirayakan secara universal. "Barang siapa menyerupai suatu kaum maka termasuk bagian dari kaumnya". Menolak perayaan bukanlah bentuk kebencian apalagi intoleran, menyalakan kembang api menandai cahaya hidup sejatinya kehilangan arah peradaban. 

Di kawasan iklim tropis kerentanan kapasitas mitigasi kian ekstrem. Pergolakan menghantam berbagai penjuru dan mengguncang kehidupan dari pesisir hingga pegunungan. Perubahan iklim semakin terasa, sebagaimana kerap diperlihatkan bahwa pola cuaca lebih sulit diprediksi. Persoalan klasik tak pernah teratasi, tragedi bencana dan musibah masih betah menggelayut pada ibu pertiwi. Menggaungkan nilai-nilai hakikat bukan pekerjaan mudah sebagai manusia mahkluk Tuhan YME. Terbelenggu ketidakadilan, menghakimi masalah berkaitan erat dan tidak berdiri sendiri. Memandang kejernihan perasaan berusaha melihat di berbagai sudut pandang yang menyelaraskan. Merefleksi serta mengejar mimpi dalam situasi dan kondisi apapun, semangat harus tetap bergeliat di aliran darah agar hidup lebih terasa. Bukankah sudah dijanjikan tak akan datang perubahan tanpa kita mengubahnya sendiri ! Sejatinya bekerja sama dalam suatu bangsa menciptakan tentram kehidupan. 

Bungkam dikala rakyat jelata semakin tercekik. Semua seakan-akan tak peduli. Jabatan, harta dan kepentingan serta permasalahan politik tak kunjung selesai. Berbagai pejabat korupsi. Dolar melonjak, harga diri bangsa di pertaruhkan. Mahasiswa mahasiswi sibuk tugas kampus, rakyat di sibukkan mengatasi permasalahan ekonomi rumah tangga. Ibu-ibu kewalahan mengatur uang belanja yang pas-pasan. Bapak-bapak semakin pusing mencari tambahan belanja dan sebagainya. Begitu pelik permasalahan rakyat kalangan bawah dan bangsa ini. 

Ketika rakyat ditanya permasalahan negara, rakyat hanya mampu berkata, "Bagaimana peduli terhadap negara sedangkan kebutuhan perut saja harus di perjuangkan setiap hari ?!" Tak punya waktu untuk peliknya urusan negara. Hanya bisa apa jika sudah berkata seperti itu ? Apalagi mahasiswa, atau mahasiswi mau bicara apa ? Seakan-akan mahasiswa mahasiswi saat ini, suaranya sudah tidak di dengarkan lagi bagai angin lewat di tengah hujan yang memekakkan, tak terdengar sedikitpun. Nilai juang sudah tidak ada lagi di dada tentang kondisi bangsa ini. Di ibaratkan "Jika negara ini dijual dan di serahkan maka tidak akan ada yang sadar sama sekali". 

Negara ini begitu banyak persoalannya mulai dari krisis kepercayaan pemimpin, ekonomi, dan sebagainya. Negara ini merindukan para pemuda dan pemudi peduli akan nasib bangsa ini, bukan yang tak tahu apa-apa tentang permasalahan bangsa dan negara. Bukan huruf yang dikejar melainkan angka dari berita yang berseliweran penuh kutu, informasi dilempar tanpa konteks tanggung jawab. Fakta dipangkas seolah tidak pantas penjelasan utuh. Lebih menyakitkan lagi aksi protes berkali-kali oleh segelintir yang katanya anak manusia menyerupai anak anjing keponakan monyet menggelar unjuk rasa tidak murni atau demo-demoan untuk uang demi perut kelaminnya sendiri. Sekadar pengulangan menunggu amarah masyarakat untuk menghakimi. 

Kebaikan tak lagi menjadi rutinitas bahkan digugurkan, pencitraan dikabarkan agar tampak layak meski titik kualitas sudah terkubur. Angka dipuja laporan terlihat, semua menjadi pajangan tanpa huruf dan dibiarkan menebak arti dibaliknya. Dipaksa membentuk meski kosong, akibatnya kepercayaan runtuh. 

Semestinya dirindukan yang tak meninggalkan bekas goresan. Sejak awal sengaja tidak pernah punya niat bermanfaat. Jika kondisi terurai maka yang tersisa hanyalah arsip bangkai. Hampa tak bermakna. Bertopeng kadang tak terlihat, berserakan atas nama masyarakat, "Mengetahui kebenaran tetapi tak diungkap dijadikan bahan untuk cuan". 

Di penghujung Tahun 2025, jagat raya digemparkan oleh ramalan mistikus yang dijuluki "Nostradamus dari Balkan" meninggalkan sederet prediksi kelam untuk Tahun 2026 mencakup eskalasi militer hingga guncangan ekonomi hebat. Tujuh poin krusial yang diprediksi akan mengubah tatanan dunia : 

1. Ancaman Perang Dunia III
2. Pergeseran Kekuatan Global ke Asia
3. Krisis Ekonomi dan Instabilitas Finansial
4. Bencana Alam dan Kekacauan Iklim
5. Kecerdasan Buatan Tak Terkendali
6. Kontak dengan Kehidupan Ekstraterestrial
7. Gejolak Politik dan Suksesi Kepemimpinan. 


Tahun 2026 menjadi Tahun Kuda Api atau Fire Horse yang memiliki energi kuat dan penuh dinamika. Di prediksi menjadi tahun yang menantang terkait pengangguran dan kemiskinan. Meskipun pemerintah menargetkan penurunan angka pengangguran terbuka tetapi perlambatan ekonomi dan jumlah angkatan kerja baru belum terserap terutama Gen Z yang mendominasi pengangguran terbesar. Secara keseluruhan, Tahun 2026 menjadi periode krusial di tengah ketidakpastian ekonomi. 

Artikel : Eko Gagak
×
Berita Terbaru Update